AH BURHANUDIN

Karena bukan orang kaya, bukan pula anak raja. Sebab itu aku menulis...

Selengkapnya
Akhir Perjalan ke Barat yang seperti Tom Sam Chong itu

Akhir Perjalan ke Barat yang seperti Tom Sam Chong itu

Oleh : Ah. Burhanudin

Akhir perjalanan hidup di dunia adalah mati. Namun, akhir perjalanan seorang mahasiswa bukanlah wisuda, katanya. Sebab, justru saat itu adalah dimulainya masa pengamalan teori-teori yang diperoleh. Lulus adalah masa Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang sebenarnya. Pengabdian sesungguhnya. Bermasyarakat. Berkarya. Hidup nyata.

Begitu juga dengan nilai Indeks Prestasi (IP) tinggi yang sering dibangga-banggakan oleh sebagian besar lulusan. Bukan itu pencapaian sesungguhnya. Prestasi sebenarnya adalah peran apa yang bisa diberikan pada lingkungan, bangsa, dan negara. Bukan angka-angka fiktif itu.

Status mahasiswa adalah status berat. Kalau tidak salah, Maha artinya besar. Siswa adalah murid. Sehingga status menjadi mahasiswa berarti menjadi murid besar. Besar dalam arti: besar pikiran, wawasan, keilmuan, dan usianya. Jadi, sudah se-Yogya dan se-Solo-nya jika harus bisa menjadi contoh untuk adik-adik di bawahnya (anak tidak sekolah, anak TK sampai SMA, dan mahasiswa di bawahnya).

Apalagi sudah lulus dari mahasiswa. Tambah berat. Dengan gelar yang terlanjur melekat, harus bisa menjadi teladan. Bukan malah sebaliknya. Hura-hura. Tidak tahu apa yang akan diperbuat setelah lulus. Jadi sampah masyarakat. Kelakuannya meresahkan teman dan lingkungan. Sungguh menyedihkan.

Di dalam hidup bermasyarakat. IP tinggi bukan ukuran sukses lulusan mahasiswa. Indikator utama kesuksesan lulus kuliah adalah menjadi pribadi berpendidikan. Ini berarti, tidak hanya pintar ngomong. Pintar membantah alibi teman. Bersilat lidah. Dan menyingkirkan siapa saja yang tidak disuka.

Berpendidikan adalah kata sifat. Ditujukan bagi orang terdidik yang sudah melalui sebuah proses pendidikan. Sikap orang yang sudah pernah dididik. Dapat dilihat dari Indikator: wawasan luas. Bisa menjadi panutan dalam kebaikan. Berkarya nyata. Tidak hanya besar pasak dari pada tiang. Eh, maksud saya besar omong dari pada kenyataan. Cocit, eh, cocotnya itu lo.

Suatu contoh: jika ada oknum lulusan Mahasiswa. Gelarnya seperti gerbong kereta. Panjang dan lama. Biasanya ini disukai ibu-ibu. Namun, sikapnya arogan. Merasa jumawa. Minta dihormati. Tidak mau antri. Mau menang sendiri. Dan. Jatah orang didahului. Jika sikap sekelas "antri" dalam hal kecil saja tidak bisa (baca: mau). Apa yang mau dibanggakan dengan IP tinggi? Apa hasil proses pendidikan yang telah dilaluinya? Apa arti angka-angka besar pada transkip nilai? Jawabannya, Nonsen. Mblelgedes.

Ini baru dalam hal antri saja. Belum lainnya. Seperti: gaya hidup, cara bergaul, cara bertindak-tanduk dan bersikap. Sejak seseorang menjadi mahasiswa, hidupnya diajari untuk berpikir dan bertindak ilmiah. Dalam berucap dan bertindak harus ada dasar sitasinya. Tidak ngawur. Sakarepe udele dewe. Apalagi dalam menyimpulkan suatu kejadian. Harus hati-hati. Ada proses ilmiah (penelitian) yang harus dilalui. Seperti saat proses membuat tugas akhir: skripsi, tesis, dan disertasi. Harus dibicarakan dulu dengan ahlinya. Agar tidak mis-kontrasepsi. Eh, maksudnya miskonsepsi. Tidak asal njeplak. Ngawur.

Mahasiswa ataupun yang sudah dinyatakan lulus tidak layak untuk sombong. Jumawa. Rumongso hebat. Sebab, proses menjadi mahasiswa sampai lulus tidak dilakukan dengan usahanya sendiri. Ada tangan-tangan yang berperan di dalamnya. Langsung atau tidak. Gaib atau nyata. Halus atau kasar. Eh, bahas apa ini.

Seperti saya. Alhamdulillah saat ini hampir bisa menyelesaikan proses kuliah. Di dalamnya ada tangan halus istri saya. Selama ini Ayang Mbeb rela uang belanjanya saya pake bayar SPP. Jatah make up bulanan tidak tercukupi. Untung istri saya sudah cantik. Pake bedak beras saja sudah bisa glowing. Jadi tidak kentara. Seperti bidadari surga. Itu lo, yang kemerah-merahan pipinya. Belum lagi rumah yang seharusnya dipunya. Sampai saat ini belum ada. Maklum masih bayar uang SPP dan fotokopi. Memang, suami mbelgedes. Jangan ditiru.

Selain itu ada Emak dan Bapak yang tidak pernah saya bisa membalas jasanya. Sampai sekarang. Irham humaa, Ya Allah. Tidak tahulah, semoga mereka diberi kesehatan oleh Allah. Hidup yang berkah dan bermanfaat.

Ada lagi anak saya. Selalu terabaikan. Waktunya bermain dengan bapaknya sangat tersita oleh hal-hal agak tidak penting. Ah, hidup memang tidak bisa sendiri. Tidak ada yang bisa disombongkan. Mengangkat muka dengan tegap saja rasanya berat. Seperti badan setelah lima hari idul fitri tahun ini. Timbangan digital mendekati angka seratus. Ah, sudah. Mulai mbrebes mili ini.

Tidak ada kata yang bisa pas untuk mengucap rasa syukur dan terimakasih. Pada teman, bapak dan ibu dosen. Dan seluruh mahluk yang telah berjasa pada proses awal hingga tiba saat ini. Baik itu makhluk astral maupun nyata.

Intinya, lulus dari sebuah proses perkuliahan bukanlah akhir dari proses belajar. Apalagi untuk sombong-sombongan. Gelar akademik bukan menunjukan kehebatan. Itu adalah ujian. Ada sebuah pertanggungjawaban besar di sana. Berat. Apalagi ijazah tidak bisa dijual. Apalagi digadaikan. Seperti perjalananTom Sam Cong dan muridnya. Hasil akhir yang didapat bukanlah lembar-lembar kitab suci seperti yang dibayangkan. Namun, ibrah dan ajaran kebaikan yang didapat dari proses mencari kitab suci.

Tolong, ingatkan saya bila sudah mulai lupa diri. Kemlinti. Gumendul. Temonyo. Mayak. Apalagi merasa benar dalam posisi salah. Sebab, demi waktu ashar. Sesungguhnya manusia dalam keadaan rugi. Kecuali orang yang mau beriman dan beramal sholih. Serta orang yang saling mengingatkan dan berpesan tentang kebenaran dan kesabaran. Pada dirinya sendiri, teman, keluarga dan lingkungan sekitar.

Ba'da subuh. Di tulis di dalam kamar. Bersama dua orang teman yang sedang asik ngorok di dunia mimpi (gambar dan nama disamarkan). Sebagai ucapan terimakasih. Sekaligus pengingat diri. Menjelang lepas status mahasiswa. Di dalam kamar Gang Merica RT 02 RW 12 Gang Mushola. Di tangerang selatan. Saya bukan Tom Sam Chong. Apalagi kakak pertama. Namun, mirip-miriplah dengan kakak kedua dan ketiga. Sama-sama pemalu dan suka dengan wanita cantik. Seperti Ayang Mbeb yang istri saya itu lo.

Selasa, 180619

#abn

abn
DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali