AH BURHANUDIN

Karena bukan orang kaya, bukan pula anak raja. Sebab itu aku menulis...

Selengkapnya

Generasi Emoticon

Kemajuan zaman tidak bisa dibendung. Teknologi merambah semua kalangan. Salah satunya adalah dalam bidang Telekomunikasi (Buku IPS Kelas 6 SD KTSP). Fenomena ini nyata. Bisa dilihat dari kehidupan di sekitar kita. Semua anak manusia mulai dari anak TK sampai aki-aki renta, seakan tidak bisa lepas dari gawai (handphone) untuk ber-social media.

Mabuk gawai, adalah padanan istilah yang digunakan untuk seseorang yang ketagihan bermain gawai. Tidak bisa dipungkiri, efek benda kecil ini (baca : gawai) sangat luar biasa. Manfaatnya memang banyak. Namun, bahayanya juga tidak kalah mengerikan.

Tak ayal, disebabkan benda ini tercipta generasi-generasi tukang menundukkan kepala. Tukang menunduk pencermat benda mati. Tertawa sendiri. Tersenyum sendiri. Disadari atau tidak, telah terlahir generasi baru bangsa ini, yaitu generasi manusia yang bisu dan tuli dengan keadaan sekitar. Raga disini tetapi jiwa melayang mengikuti sinyal.

Sahabatku yang baik hati. Menyambut datangnya momen lebaran yang mungkin kurang satu hari lagi. Marilah benar-benar kita sambut hari fitri ini dengan niat lebaran yang sesungguhnya. Jadikan hari bahagia ini sebagai momen istimewa untuk bersilaturahim dengan keluarga, sanak, teman, dan kerabat.

Mari saling berbicara, saling menyapa, dan saling bertukar kabar dengan cara yang manusiawi. Kita adalah manusia nyata. Manusia yang memiliki mulut, mata, hati, dan telinga.

Kenapa saya berbicara seperti ini? Ya, karena saat ini sudah jarang terlihat senyum yang nyata di wajah-wajah manusia, semua telah terganti dengan emoticon. Dan. Saat ini sudah jarang terlihat manusia berbincang-bincang nikmat dengan manusia lain tanpa diganggu gawai di tangan. Saya kuatir, suatu saat generasi kita akan lupa dengan cara berbicara, cara menyapa, dan cara tersenyum manusia.

Memang, dengan gawai yang jauh bisa terasa dekat, tetapi dengan gawai pula yang dekat bisa terasa jauh. Ingat, yang kita hadapi adalah manusia yang punya perasaan. kalau tidak salah teori komunikasi di dunia nyata bisa terjalin dengan baik apabila antara komunikator dan komunikan tidak ada penghalang. Kalau toh gawai sudah bisa menggantikan indahnya bertatap muka, mengganti akrabnya rasa kekeluargaan. terus untuk apa ada pulang kampung? untuk apa ada reuni? untuk apapula silaturahmi? kan, semua cukup disampaikan dengan emoticon senyum atau emoticon dua tangan melambai.

Demi keberlangsungan ras manusia yang manusiawi. Sejenak mari kita renungkan. Setidaknya di momen yang langka ini, apabila sedang bertamu, ada tamu, dan berkomunikasi dengan mahluk dunia nyata lainnya (baca : manusia), mari tinggalkan sejenak gawai kita. Sekarang bayangkan saja perasaan kita jika ngobrol dengan orang, Namun, orang tersebut terlihat senyum-senyum sibuk dengan benda kecil di tangannya. Ah, tolong ... dicuekin itu berat Jenderal, biar aku saja (Mukidi, 2018).

Sekali lagi mari tinggalkan sejenak gawai kita. Simpan dan buang sementara dari perbincangan saat reuni dan silaturahmi. Toh, sebentar saja tidak akan membuat kita rugi trilyunan rupiah. Mari jadikan lebaran ini menjadi momen lebaran yang benar-benar bisa mengikat silaturahmi dalam dunia nyata.

Terakhir, mari sempurnakan ibadah kita. Puasa insyaallah tinggal satu hari lagi, saudara yang punya kewajiban zakat segera tasarufkan zakatnya, karena itu bagian dari kesempurnaan iman.

By the way, sebelum diomeli emak, lebih baik saya akhiri tulisan ini. Itu di pintu keluar pasar sudah terlihat emak yang memanggil untuk mengangkat belanjaan. Sepertinya belanja banyak banget, semoga tidak nambah kreditan panci, sandal, kelambu, dan sprei. Eh,

Selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankan. Selamat berbahagia menyambut datangnya hari raya idul fitri. Mohon maaf lahir dan batin.

Sudut Pasar Badas, 13 Juni 2018

#abn

abn
DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Sangat sepakat, harus ada gerakan "no handphone one day" salam literasi

13 Jun
Balas

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali