AH BURHANUDIN

Karena bukan orang kaya, bukan pula anak raja. Sebab itu aku menulis...

Selengkapnya
Kembali Menembus Waktu

Kembali Menembus Waktu

Saat ayam berkokok, saat itu pula aku bangun. Bersiap berangkat ke Surabaya. Kota besar. Panas. Penuh harapan besar. Dan, menyenangkan. Kisah ini dimulai empat belas tahun silam. Saat negara api belum menyerang. Lelaki tinggi coklat. Agak condong kehitam-hitaman. Lebih tepatnya klawu. Berat badan masih proporsional: sekitar 70-an. Belum montok seperti sekarang. Agak mblekenuk: aku.

Menyusuri jalan Surabaya-Kediri sudah lumrah. Seperti rumah sendiri. Tidak ada beda. Mulai dari naik angkot. Ojek. Bis antar kota juga sudah biasa. Seperti mimpi. Tidak tahu masa depan. Mau jadi apa? Tidak tahu. Yang kutahu hanya satu: bekerja tidak merepotkan orang tua.

Setiap Minggu malam. Bisa juga disebut Senin pagi. Pagi sekali. Ba'da Subuh. Sebulan sekali. Terkadang dua atau tiga kali. Di antar oleh adik ke Badas. Bukan untuk naik pesawat. kereta apalagi. Namun, hanya bis kota. Kendaraan yang sudah sangat mewah itu. Langganan. Satu bis sudah hampir kenal. Pasti sudah penuh. Berdesak-desakan. ujung-ujungnya pasti berdiri. Sampai Mojokerto. Bahkan sampai Surabaya juga sering.

Berjuang juga bukan. Sekedar mengisi hidup. Membunuh waktu. Mencari uang. Sampai lupa latar belakang pendidikan. Bahkan sering menghela nafas panjang. Hanya ada satu gambaran: madesu: masa depan suram. Gaji pas-pasan: pas untuk makan dan bayar hutang. Di tambah lagi untuk bayar ponten (WC). Pas sudah. Pasti kurang.

Tinggal di sebuah kamar kos kecil itu. Bersama tiga orang. Sebenarnya belum jadi orang. Lebih tepatnya, 3 manusia yang belum tahu masa depan. Ngambang. Terbawa arus. Tergerus zaman. Tiga kali tiga ukuran kamarnya. Mungkin lebih kecil lagi. Di sebelah kali Jagir. Pas Pojok Jembatan itu. Ada kamar mandinya di luar. Tidak ada Toiletnya. Dulu warnanya hijau. Kalau tidak salah dua ratus ribu atau tiga ratus sewanya. Sering telat bayarnya: nunggu gajian. Bangunan tingkat dua: yang atas. Milik Pak haji orang Madura. Baik hati orangnya.

Wonokromo, kota penuh kenangan. Banyak kisah terjadi. Mulai dari pedihnya perut tatkala lapar. Terjadinya transaksi hutang-piutang. Sampai jadi saksi sebuah kebiadaban. Dan. Ada juga kisah tentang persaudaraan. Liku-liku jalan takdir. Siapa yang tahu.

Terminal itu. Iya, di depan terminal bus itu. Tidak pernah sepi. Semua jenis manusia ada di sana. Kyai. Copet. Bahkan penyanyi. Tidak lupa juga banci. Iya. Lelaki pesolek yang selalu menggoda. Risih. Tetapi sudah biasa. Tiap hari pasti terlewati. Pagi, sore dan terkadang malam.

Berjalan menembus waktu. Menuju tempat hewan-hewan itu: kebun binatang. Tempat penuh sendau gurau dan tawa. Mencari uang. Banyak kawan. Di tempat ini aku menherti arti hidup. Tidak ada kawan sejati. Tidak ada sahabat sejati. Yang ada adalah doa-doa abadi. Harapan-harapan abadi. Terselinap di balik wajah-wajah ceria. Harapan seluruh insan: semua ingin bahagia.

Di sana ada sahabat. Tidak kaya harta. Tetapi baik hatinya. Yang dulu pernah menyemangati untuk kuliah(lagi). Yang dulu pernah aku hutang padanya. Yang pernah aku berkeluh kesah tentang hidup. Teman dan juga saudara. Menghibur di kala tidak punya apa-apa.

Saat ini kucoba memutar waktu. Menuju empat belas tahun silam. Tetap di dalam sebuah bis kota jurusan Surabaya. Yang ada pengamennya. Asongan penjual tahu itu. Dan juga peminta-minta dengan amplopnya. Namun, ada yang lain. Ada seorang lelaki kecil di sebelahku. Belum tahu dosa. Belum begitu kenal dunia. Ganteng dan lucu. Mirip aku: anakku.

Seraya meneteskan air mata. Tidak begitu terlihat. Setiap menetes kutepis perlahan. Agar tidak ada yang tahu. Apalagi anak kecil di sebelahku. Kuceritakan gedung-gedung di sepanjang jalan. Kisah-kisah hidup. Tentang menghargai orang lain. Tentang menghormati orang lain. Semua sudah banyak berubah. Tetapi tidak membuatku lupa. Seraya ingin kuucap pesan:

"Nak, besok kalau sudah besar. Seumpama jadi orang kaya. Jangan pernah lupa. Bapakmu ini tidak kaya. Hanya orang biasa. Seperti orang-orang itu. Orang yang pernah susah untuk makan nasi tiga kali sehari. Orang yang pernah terlunta-lunta: menggembel di Surabaya. Tidak berguna."

"Tidak usahlah malu jadi orang susah. Selama dirimu tidak menyusahkan orang lain. Tidak usahlah sombong jadi orang kaya. Tidak akan disebut kaya jika tidak ada orang miskin. Hidup sewajarnya saja. Opo anane wae."

"Tidak usah takut susah. Tidak usah takut akan kesulitan hidup. Kesulitan dan kesusahan itu akan membuatmu kuat. Masalah yang terjadi akan membuat kokoh. Seperti baja. Bahkan, bisa kuat dan perkasa. Seperti efek lima belas menit setelah mengkonsumsi obat kuat itu."

Kamis, 110619

Bus jurusan Surabaya-Tergalek

abn
DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali